Kencong, 09 Oktober 2026 – Di sebuah desa, ada satu hal yang belakangan ini lebih nyaring daripada sound system: omongan manusia.
Ceritanya sederhana. Seorang Gus muda, yang sehari-hari mengajar ngaji, mengimbau santrinya agar tidak mengikuti karnaval yang akan digelar sepekan lagi. Mungkin beliau punya pertimbangan agama. Mungkin juga berangkat dari fatwa yang sedang menjadi perbincangan. Bisa jadi, beliau hanya ingin menjaga prinsip yang diyakininya.
Toh, namanya juga guru ngaji. Rasanya wajar jika sesekali yang disampaikan adalah nasihat, bukan sekadar pengumuman jadwal kegiatan.
Namun, rupanya imbauan itu lebih cepat menyebar daripada pengumuman karnavalnya sendiri. Sang Gus muda pun menjadi bahan pembicaraan satu desa. Seolah-olah mengimbau santri untuk tidak ikut karnaval adalah dosa sosial yang hukumannya harus dibayar dengan gunjingan berjamaah.
Padahal, beliau tidak sedang mengeluarkan surat edaran untuk seluruh warga desa. Beliau hanya menyampaikan sikap kepada orang-orang yang berada dalam lingkup pengajarannya.
Tetapi, ya begitulah. Di zaman sekarang, nasihat kadang dianggap provokasi, sementara kebisingan justru dianggap prestasi.
Belum selesai kegaduhan di tingkat desa, datanglah kabar dari tingkat kabupaten. Sejumlah ulama menyampaikan surat kepada Bupati Jember terkait fenomena sound horeg. Surat itu dibacakan langsung oleh sosok kiai sepuh yang dihormati, KH. Sadid Jauhari dari Kencong.
Tiba-tiba, persoalannya menjadi lebih menarik.
Jika seorang Gus muda yang baru beberapa tahun dikenal masyarakat sudah menjadi sasaran gunjingan hanya karena imbauan internal, lalu bagaimana dengan seorang kiai sepuh yang menyampaikan pandangan serupa dalam ruang publik?
Jawabannya bisa kita saksikan sendiri. Media sosial punya panggung yang luas, tetapi tidak selalu menyediakan tempat bagi adab.
Kiai yang puluhan tahun mengabdikan hidupnya untuk umat pun bisa menjadi sasaran hujatan. Gelar, usia, pengalaman, dan pengabdian terkadang tak lagi berarti ketika seseorang merasa paling benar di balik layar ponselnya.
Dari sini saya mulai berpikir: kalau kiai sepuh saja bisa dirujak sedemikian rupa, apalagi Gus muda yang baru tumbuh pengaruhnya di desa?
Barangkali memang ada yang keliru dengan zaman kita. Bukan karena masyarakat berani berbeda pendapat, sebab berbeda pendapat adalah hal yang wajar. Yang mengkhawatirkan adalah ketika perbedaan pendapat kehilangan adab, dan kritik berubah menjadi kesempatan untuk mempermalukan orang lain.
Mari kita bedakan beberapa hal.
Mengikuti karnaval adalah pilihan. Menyukai sound system adalah selera. Mengkritisi kebijakan atau fatwa adalah hak. Tetapi menghormati orang yang berbeda pandangan seharusnya tetap menjadi kewajiban moral.
Kalaupun ada yang tidak sepakat dengan pandangan para ulama, bukankah masih tersedia ruang untuk berdiskusi? Kalau merasa sebuah fatwa tidak tepat diterapkan pada konteks tertentu, bukankah bisa dijelaskan dengan argumentasi? Mengapa harus buru-buru menyeret nama baik seseorang ke meja penghakiman media sosial?
Dan soal karnaval, tentu tidak semua kegiatan budaya bisa disamaratakan. Ada tradisi yang patut dirawat, ada kreativitas yang layak diapresiasi, dan ada pula praktik penyelenggaraan yang perlu dievaluasi. Persoalan volume suara, ketertiban, keselamatan, serta dampaknya bagi masyarakat layak dibahas secara jernih.
Jangan sampai karena terlalu sibuk membela hiburan, kita lupa bahwa orang lain juga memiliki hak untuk merasa nyaman, beribadah, belajar, dan menjalani keyakinannya.
Saya pribadi bisa memahami jika seorang guru ngaji memberikan imbauan kepada santrinya berdasarkan keyakinan dan pertimbangan yang ia pegang. Imbauan itu tidak otomatis harus menjadi aturan bagi seluruh desa. Namun, selama disampaikan dengan baik dan tidak melanggar hak orang lain, mengapa harus diperlakukan seolah-olah sebuah kejahatan?
Toh, santri datang untuk belajar agama, bukan untuk diwajibkan menyukai semua hiburan yang disukai masyarakat.
Lucunya, kita sering berbicara tentang toleransi, tetapi terkadang hanya toleran kepada orang yang sepemikiran. Kita menyerukan kebebasan berekspresi, tetapi mudah marah ketika ekspresi itu berisi nasihat yang tidak sesuai selera kita.
Kita ingin ulama berbicara, tetapi hanya selama perkataannya tidak mengganggu kesenangan kita.
Mungkin inilah ironi terbesar kita hari ini: suara sound bisa diperbesar sampai berkilometer, tetapi suara nasihat harus dikecilkan agar tidak menyinggung siapa-siapa.
Padahal, agama tidak selalu hadir untuk membenarkan apa yang ingin kita lakukan. Terkadang agama justru mengajak kita berhenti sejenak, memeriksa diri, dan bertanya apakah sesuatu yang menyenangkan bagi kita juga membawa kebaikan bagi orang lain.
Pada akhirnya, karnaval akan selesai. Sound akan dimatikan. Jalanan akan kembali lengang. Video-video akan tenggelam oleh berita baru.
Namun, bekas ucapan kita kepada sesama bisa bertahan lebih lama daripada dentuman musik semalam.
Maka, sebelum sibuk menghakimi seorang Gus muda atau merujak seorang kiai sepuh, barangkali kita perlu bertanya kepada diri sendiri:
Apakah yang sedang kita perjuangkan benar-benar kebebasan, atau sekadar keinginan agar tidak ada seorang pun yang berani mengingatkan kita?
Sebab, jika setiap nasihat dianggap musuh dan setiap perbedaan dijawab dengan hujatan, jangan-jangan yang semakin keras bukan hanya suara sound kita.
Melainkan juga ego kita sendiri.































