Menu

Mode Gelap
Khutbah Jumat: Berpisah dengan Ramadhan Banser PAC Gumukmas Amankan Sholat Idul Fitri Warga Muhammadiyah, Wujud Toleransi dan Sinergi Banser Kencong Dirikan Tiga Posko Mudik, Sediakan Fasilitas Bekam untuk Pemudik Ketinggian 2 Derajat, Hilal Gagal Terpantau di Pantai Puger Gelar Silaturahmi dan Sahur Bersama Ulama, Bupati Jember Paparkan Program Pesantren Hingga Proyek “Payung Madinah” Safari Ramadan LDNU di Gumukmas Gaungkan Keutamaan Lailatulqadar pada Asyrul Awakhir

BANOM

#BoikotTrans7 Menggema: Kado Pahit Menjelang Hari Santri Nasional, Pesantren Tersakiti oleh Tayangan Menyesatkan

badge-check


					#BoikotTrans7 Menggema: Kado Pahit Menjelang Hari Santri Nasional, Pesantren Tersakiti oleh Tayangan Menyesatkan Perbesar

 Download PDF

Kencong – Luka batin kalangan pesantren belum juga sembuh. Tayangan salah satu program di stasiun televisi nasional Trans7 menuai reaksi keras dari masyarakat, khususnya alumni dan santri pesantren di seluruh Indonesia. Tayangan tersebut dinilai mengandung narasi menyesatkan dan framing negatif terhadap kehidupan pondok pesantren, tanpa dasar riset yang jelas, tanpa klarifikasi, serta mengabaikan etika jurnalistik.

Alih-alih memberikan tontonan edukatif, Trans7 justru dianggap sengaja memilih tema “tepi jurang” demi mengejar rating, dengan mengorbankan kehormatan lembaga pesantren. Hal ini menimbulkan kekecewaan mendalam, terutama karena pesantren yang disinggung adalah Pondok Pesantren Lirboyo, tempat para kiai khos dan Rais PWNU Jawa Timur berkiprah. Ribuan alumni pesantren ini tersebar di seluruh penjuru Nusantara, dan secara serentak menunjukkan kemarahan serta kekecewaannya melalui gerakan #BoikotTrans7 di media sosial.

“Sudah benar kalau Trans7 fokus saja ke tayangan lawakan dan komedi. Jangan sekali-kali menyenggol lembaga pesantren tanpa data dan niat baik,” ujar salah satu tokoh pesantren dengan nada kecewa.

Reaksi keras juga datang dari Ridwan Khamid, Satkorcab Banser Kencong. Ia menilai bahwa tayangan Trans7 tersebut bukan sekadar bentuk kelalaian redaksi, tetapi memiliki dampak serius terhadap persepsi masyarakat.

“Media massa punya kekuatan besar dalam membentuk opini publik. Ketika pesantren difitnah atau dipersepsikan negatif tanpa dasar yang kuat, maka dampaknya bisa sangat luas. Ini bukan hanya soal marwah lembaga, tapi juga menyangkut kepercayaan masyarakat terhadap dunia pesantren,” tegas Ridwan Khamid.

Ia menambahkan, tayangan tersebut menjadi tamparan keras bagi dunia jurnalistik. Seharusnya, media nasional menjunjung tinggi tanggung jawab moral, bukan justru mengorbankan kebenaran demi sensasi dan rating.

Dalam konteks sejarah dan kebangsaan, media massa seperti televisi, radio, dan surat kabar merupakan alat pengaruh opini publik yang sangat kuat. Berbeda dengan perang fisik yang membutuhkan senjata berat dan biaya besar, perang melalui media jauh lebih murah namun dampaknya lebih dahsyat, karena menyasar langsung ke pikiran dan persepsi masyarakat. Informasi yang keliru atau dimanipulasi dapat merusak citra lembaga, bahkan memicu perpecahan di tengah masyarakat.

Dalam penggalan kredo perjuangan KH. Abdul Wahab Hasbullah, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama, disebutkan bahwa upaya melemahkan NU dan pesantrennya sering kali dilakukan melalui propaganda luar yang menghasut dan menanamkan keraguan dari dalam. “Salah satu fungsi media adalah propaganda,” begitu pesan yang relevan dengan situasi saat ini. Pertanyaan penting pun muncul: dari siapa, oleh siapa, dan untuk apa propaganda itu dilakukan?

Bagi kalangan pesantren, tayangan Trans7 ini menjadi kado pahit menjelang peringatan Hari Santri Nasional. Di saat masyarakat pesantren tengah bersiap merayakan momentum penting tersebut, justru muncul tayangan yang melukai marwah pesantren. Banyak pihak menilai, langkah ini bukan sekadar kelalaian, melainkan cerminan adanya kelompok yang tidak menyukai keberadaan pesantren dan kelembagaannya, bahkan berpotensi memusuhi nilai-nilai yang dijaga pesantren selama ratusan tahun.

Karena itu, suara masyarakat pesantren kini bulat: tayangan seperti ini tidak boleh dibiarkan. Mereka menuntut klarifikasi, permintaan maaf terbuka, dan komitmen Trans7 untuk tidak mengulang tindakan serupa. Jika tidak, gerakan #BoikotTrans7 diyakini akan terus meluas.

“Banyak yang tidak suka dengan pesantren, tapi hanya ada satu kata: HADAPI!” tegas Ridwan Khamid.

Baca Lainnya

Banser PAC Gumukmas Amankan Sholat Idul Fitri Warga Muhammadiyah, Wujud Toleransi dan Sinergi

20 Maret 2026 - 09:09 WIB

Banser Kencong Dirikan Tiga Posko Mudik, Sediakan Fasilitas Bekam untuk Pemudik

19 Maret 2026 - 21:40 WIB

Fatayat NU Kasiyan Peringati Nuzulul Quran dengan Khotmil Quran dan Berbagi 500 Paket Takjil

10 Maret 2026 - 22:12 WIB

Ansor dan Banser Kencong Nyatakan Dukungan untuk Gus Yaqut dalam Sidang Praperadilan Kasus Kuota Haji

28 Februari 2026 - 15:45 WIB

PC GP Ansor Kencong Gelar Pelatihan Administrasi, Perkuat Tata Kelola Organisasi

28 Februari 2026 - 15:31 WIB

Trending di BANOM