Menu

Mode Gelap
Potret Tawadhu Ketua PCNU Kencong KH. Zainil Ghulam dan Rais Syuriyah PWNU Jatim KH. Khoirzad Maddah Duduk Bersama Jamaah di Mujahadah Kubro NU Ribuan Jamaah NU, Di Muhammadiyahkan oleh satu orang di acara Mujahadah Kubro LAZISNU Jatim Luncurkan Sistem Laporan Keuangan Berbasis Digital, Cabang Kencong Nyatakan Dukungan Pengukuhan Asosiasi Profesor dan Inaugurasi Paralegal Muslimat NU Perkuat Advokasi Hukum Perempuan Khutbah Jumat: Kebahagiaan Seorang Mukmin di Bulan Sya’ban Bincang Lesbumi Kencong x Lesbumi Jatim, Gus Riadi Ngasiran: Lesbumi Harus Jadi Medium Pencerahan Spiritual dan Intelektual di Era Digital

LTNNU

Ribuan Jamaah NU, Di Muhammadiyahkan oleh satu orang di acara Mujahadah Kubro

badge-check


					Ribuan Jamaah NU, Di Muhammadiyahkan oleh satu orang di acara Mujahadah Kubro Perbesar

 Download PDF

Minggu pagi, 08 Februari, udara Kota Malang masih basah oleh sisa embun malam. Di Masjid Jenderal Ahmad Yani, jamaah Subuh tumpah ruah sejak sebelum azan berkumandang. Wajah-wajah lelah namun penuh semangat terlihat jelas mereka adalah ribuan warga Nahdlatul Ulama yang bersiap menghadiri Mujahadah Kubro di Stadion Gajayana.

Masjid itu bukan masjid NU. Ia dikenal sebagai masjid milik Muhammadiyah. Tapi pagi itu, satu hal membuat suasana terasa unik, bahkan sedikit “janggal” bagi sebagian besar jamaah. Sejak azan berkumandang, kejanggalan pertama mulai terasa. Tak ada pujian setelah azan sesuatu yang biasanya akrab di telinga warga NU. Beberapa jamaah saling pandang, senyum kecil terselip, seolah bertanya tanpa kata: “Kok sepi, ya?”

 

Shalat pun dimulai. Imam berdiri mantap. Tak lama, kejanggalan kedua muncul. Tak terdengar bacaan Bismillah sebelum Al-Fatihah dan surat-surat pendek. Dan puncaknya yang paling terasa shalat Subuh pagi itu tanpa doa qunut.

Bagi warga NU, qunut Subuh bukan sekadar bacaan; ia adalah kebiasaan, tradisi, bahkan rasa. Maka ketika rakaat kedua berlalu tanpa qunut, beberapa jamaah baru benar-benar sadar: “Oh… kita sedang ‘dimuhammadiyahkan’.” 😄

Lucunya, meski imamnya hanya satu orang, hampir 80 persen jamaah pagi itu mengenakan atribut NU dan banom-banomnya jaket hijau, syal, hingga kopiah khas. Sebuah pemandangan kontras yang justru terasa hangat: satu imam, ribuan makmum, berbeda kebiasaan, tapi tetap satu tujuan.

Tak ada protes. Tak ada kegaduhan. Yang ada justru senyum-senyum kecil, bisik ringan setelah salam, dan rasa persaudaraan yang menguat. Subuh tanpa qunut itu menjadi cerita yang akan dibawa pulang, diceritakan ulang, dan dikenang sebagai pengalaman unik sebelum mujahadah akbar.

Pagi itu mengajarkan satu hal sederhana namun dalam:
perbedaan cara beribadah tak menghalangi kebersamaan, dan ukhuwah tetap terjaga—bahkan sejak Subuh, sebelum langkah-langkah besar menuju Stadion Gajayana dimulai.

Baca Lainnya

Inventaris Organisasi Bukan Milik Pribadi

8 Desember 2025 - 08:07 WIB

LTNNU Gelar Pelatihan Jurnalistik “Kala Cipta Pustaka Ilmu” di PP. Bustanul Ulum Mlokorejo

29 Oktober 2025 - 18:05 WIB

Santri Pemimpin Santri, Harapan Baru dari Bupati Jember Gus Fawait

22 Oktober 2025 - 06:21 WIB

Boikot Trans7 dan Krisis Etika Jurnalistik: Ketika Pesantren Difitnah oleh Media Nasional

14 Oktober 2025 - 09:31 WIB

Pentingnya Hidup Rukun dengan Tetangga: Belajar dari Konflik Yai Mim dan Sahara

8 Oktober 2025 - 10:50 WIB

Trending di LTNNU