Minggu pagi, 08 Februari, udara Kota Malang masih basah oleh sisa embun malam. Di Masjid Jenderal Ahmad Yani, jamaah Subuh tumpah ruah sejak sebelum azan berkumandang. Wajah-wajah lelah namun penuh semangat terlihat jelas mereka adalah ribuan warga Nahdlatul Ulama yang bersiap menghadiri Mujahadah Kubro di Stadion Gajayana.
Masjid itu bukan masjid NU. Ia dikenal sebagai masjid milik Muhammadiyah. Tapi pagi itu, satu hal membuat suasana terasa unik, bahkan sedikit “janggal” bagi sebagian besar jamaah. Sejak azan berkumandang, kejanggalan pertama mulai terasa. Tak ada pujian setelah azan sesuatu yang biasanya akrab di telinga warga NU. Beberapa jamaah saling pandang, senyum kecil terselip, seolah bertanya tanpa kata: “Kok sepi, ya?”
Shalat pun dimulai. Imam berdiri mantap. Tak lama, kejanggalan kedua muncul. Tak terdengar bacaan Bismillah sebelum Al-Fatihah dan surat-surat pendek. Dan puncaknya yang paling terasa shalat Subuh pagi itu tanpa doa qunut.
Bagi warga NU, qunut Subuh bukan sekadar bacaan; ia adalah kebiasaan, tradisi, bahkan rasa. Maka ketika rakaat kedua berlalu tanpa qunut, beberapa jamaah baru benar-benar sadar: “Oh… kita sedang ‘dimuhammadiyahkan’.” 😄
Lucunya, meski imamnya hanya satu orang, hampir 80 persen jamaah pagi itu mengenakan atribut NU dan banom-banomnya jaket hijau, syal, hingga kopiah khas. Sebuah pemandangan kontras yang justru terasa hangat: satu imam, ribuan makmum, berbeda kebiasaan, tapi tetap satu tujuan.
Tak ada protes. Tak ada kegaduhan. Yang ada justru senyum-senyum kecil, bisik ringan setelah salam, dan rasa persaudaraan yang menguat. Subuh tanpa qunut itu menjadi cerita yang akan dibawa pulang, diceritakan ulang, dan dikenang sebagai pengalaman unik sebelum mujahadah akbar.
Pagi itu mengajarkan satu hal sederhana namun dalam:
perbedaan cara beribadah tak menghalangi kebersamaan, dan ukhuwah tetap terjaga—bahkan sejak Subuh, sebelum langkah-langkah besar menuju Stadion Gajayana dimulai.
































