Menu

Mode Gelap
Bincang Lesbumi Kencong x Lesbumi Jatim, Gus Riadi Ngasiran: Lesbumi Harus Jadi Medium Pencerahan Spiritual dan Intelektual di Era Digital Download Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1447 H/2026 M Pengurus Lesbumi PCNU Kencong Hadiri Pameran Lukisan Nasional Sambut Seabad NU Peringati 100 Tahun NU, PCNU Kencong Launching Ngaji Qanun Asasi NU Persiapan Ramadhan LDNU Cabang Kencong: Fokus Kreativitas Dakwah melalui Mimbar, Sosmed, dan Kegiatan Lokal Santri Pesantren di PCNU Kencong Diajak Ikuti Program TV Nasional “Cahaya Muda Indonesia”

KHAZANAH

Kehilangan Dunia Bukanlah Luka Terbesar

badge-check


					Kehilangan Dunia Bukanlah Luka Terbesar Perbesar

 Download PDF

Kencong – Kadang Allah mengambil dunia dari genggaman kita. Harta yang kita jaga, kedudukan yang kita banggakan,
rencana yang kita susun rapi semuanya bisa runtuh dalam satu waktu.

Hati pun bertanya,
“Apakah ini akhir dari segalanya?”

Padahal, tidak. Dunia memang diciptakan untuk pergi, bukan untuk menetap.
Ia datang sebagai ujian, lalu pergi sebagai pelajaran.

Kehilangan dunia memang menyakitkan,
namun ia masih bisa diganti. Air mata bisa mengering, luka bisa sembuh, dan harapan bisa tumbuh kembali.

Namun ada satu kehilangan yang tak boleh kita anggap sepele kehilangan pengakuan
sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Sebab apa arti dunia jika nama kita tak tercatat
dalam barisan umat kekasih Allah?

Apa arti kelapangan hidup jika langkah kita menjauh dari teladan Rasulullah SAW?

Lebih baik hidup dengan dunia yang sempit
namun hati luas oleh iman, daripada dunia melimpah namun jiwa kosong dari cahaya Islam.

Rasulullah SAW tidak menjanjikan kemewahan, tetapi menjanjikan keselamatan.

Beliau tidak mengajarkan cinta dunia,
namun cinta yang menuntun ke surga.

Selama lisan kita masih bershalawat, selama hati kita masih rindu pada akhlaknya,
selama langkah kita masih berusaha menyusuri jejak sunnahnya, maka kita belum benar-benar kehilangan apa pun.

Biarlah dunia pergi satu per satu, asal iman tetap tinggal. Biarlah hidup terasa berat,
asal Allah masih ridha dan Rasulullah SAW masih mengakui kita sebagai umatnya.

Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak dunia yang kita bawa, tetapi dengan siapa kita dibangkitkan. Dan sungguh, kehilangan dunia bukanlah luka terbesar,
namun terputus dari Nabi Muhammad SAW
itulah kehilangan yang paling menakutkan.

Baca Lainnya

Idul Fitri dan Keindahan Silaturahmi: Menyambung Kasih di Hari Kemenangan

1 April 2025 - 07:03 WIB

Tradisi Megengan di Kalangan Nahdliyin

25 Februari 2025 - 11:35 WIB

Trending di KHAZANAH