Kencong – Ada satu pelajaran sederhana yang entah mengapa seringkali paling sulit dipahami: inventaris organisasi bukanlah warisan keluarga. Ia tidak ikut masa jabatan, tidak otomatis menjadi hak milik pribadi, dan tidak berubah status hanya karena sempat dipakai intens oleh satu pengurus. Inventaris tetap inventaris, amanah tetap amanah. Begitu masa pengabdian usai, barang-barang itu mestinya ikut kembali ke rumah besar organisasi, bukan masuk garasi pribadi seolah-olah itu buah jerih payah sendiri.
Namun suatu hari, di sebuah organisasi yang namanya tidak usah disebut karena mungkin terlalu banyak yang merasa tersindir terjadi sebuah kisah yang lebih cocok masuk rubrik “ironi pekan ini”. Pada masa kepengurusan tertentu, organisasi menerima sebuah kendaraan. Tentu semua orang mengira kendaraan itu akan menjadi fasilitas bersama, sehingga siapa pun pemimpin berikutnya bisa bekerja dengan lebih mudah, lebih cepat, dan lebih efektif.
Tapi rupanya di balik senyapnya perjalanan organisasi, muncul sebuah logika baru: logika bahwa amanah bisa berubah menjadi kepemilikan, dan fasilitas umum bisa naik pangkat menjadi harta pribadi.
Ketika masa jabatan berakhir dan tongkat estafet berpindah tangan, muncul drama kecil yang bikin alis naik dua centi. Pengurus lama tiba-tiba mengeluarkan aturan yang tidak pernah dibahas dalam AD/ART, tidak pernah ditulis dalam notulen, bahkan tidak pernah dibisikkan di rapat malam hari: kendaraan bisa diserahkan… “asal ditebus”.
Ya, ditebus.
Seolah-olah ini bukan inventaris, melainkan motor kredit yang tinggal tiga bulan lagi lunas.
Alasannya pun terdengar indah kalau pendengarnya sudah kehilangan daya kritis. Katanya, uang tebusan itu adalah “biaya operasional selama menjabat”, dan kendaraan itu sudah “dibelikan” dari dana kerja yang entah dari mana catatannya. Padahal selama ini seluruh operasional dicatat sebagai anggaran organisasi, tapi mendadak ketika masa jabatan berakhir, semuanya berubah menjadi urusan pribadi yang harus diganti rugi.
Ironi ini semakin manis ketika orang-orang mulai mempertanyakan: sejak kapan inventaris organisasi punya opsi sewa-beli? Sejak kapan pengurus lama berhak menentukan harga barang yang bahkan bukan miliknya? Dan sejak kapan amanah boleh dicicil, lalu ditarik ke rumah pribadi pada akhir masa jabatan?
Seakan-akan konsep pengabdian telah direvisi menjadi konsep “pengabdian berhadiah”. Seakan selama menjabat, kendaraan itu berubah status dari sarana organisasi menjadi bonus akhir masa bakti. Dan lebih lucu lagi, ketika diminta kembali, barang itu mendadak berubah menjadi objek transaksi.
Padahal jabatan itu singkat.
Amanah itu panjang.
Tapi nafsu kepemilikan, ternyata, bisa jauh lebih panjang dari keduanya.
Begitulah ironi sebuah organisasi: tempat yang seharusnya menjadi ruang belajar integritas, malah kadang berubah menjadi panggung komedi-komedi yang tidak lucu, tapi sangat menggambarkan betapa sulitnya membedakan antara melayani dan memiliki.
































