Kencong – Ketua PC LP Ma’arif NU Kencong, HM. Yasin Yusuf Ghozali, melakukan kunjungan ke MI Miftahul Ulum 1 Mayangan, Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember. Dalam kunjungan tersebut, ia berkesempatan berdialog dengan Muslim, S.Pd.I., M.Pd., yang berada di tempat dan berbagi cerita mengenai sejarah berdirinya madrasah serta tradisi keagamaan yang hingga kini terus dipertahankan.
Dalam perbincangan tersebut, Muslim menjelaskan bahwa MI Miftahul Ulum 1 Mayangan diperkirakan berdiri pada tahun 1956. Adapun hari lahir atau peringatan berdirinya madrasah tersebut dilaksanakan setiap tanggal 23 Maret.
Berawal dari Semangat Tokoh Masyarakat
Sejarah berdirinya MI Miftahul Ulum 1 Mayangan tidak terlepas dari perjuangan para tokoh masyarakat setempat yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pendidikan. Salah satu tokoh yang dikenang karena semangat dan kegigihannya adalah Mbah Simis.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Mbah Simis memiliki keinginan kuat agar warga Mayangan dapat memperoleh akses pendidikan melalui lembaga yang berdiri di lingkungan mereka sendiri. Berbagai upaya dilakukan untuk mewujudkan cita-cita tersebut, termasuk menggerakkan masyarakat agar turut membantu pembangunan sarana pendidikan.
Ada kisah menarik yang menggambarkan perjuangan pada masa awal pembangunan madrasah. Ketika pembangunan berlangsung, keterbatasan dana bahkan menjadi kendala untuk menyediakan konsumsi bagi para pekerja. Dalam situasi tersebut, muncul sebuah siasat unik dengan membungkus batu seolah-olah makanan untuk dikirimkan kepada para pekerja.
Kejadian itu membuat para pekerja terkejut. Namun, cara tersebut menjadi semacam pemantik kepedulian masyarakat. Warga kemudian tergerak untuk berpartisipasi dan bergantian menyediakan konsumsi bagi para pekerja yang sedang membangun sarana pendidikan.
Kisah tersebut menjadi gambaran bahwa berdirinya madrasah bukan semata-mata hasil pembangunan fisik, melainkan juga buah dari semangat perjuangan, gotong royong, dan kepedulian masyarakat terhadap pendidikan generasi penerus.
Pembiasaan Asmaul Husna dan Aqidatul Awam
Selain memiliki sejarah perjuangan yang panjang, MI Miftahul Ulum 1 Mayangan juga mempunyai tradisi keagamaan yang menjadi ciri khas dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari.
Alhamdulillah Muslim menjelaskan bahwa salah satu pembiasaan yang dilakukan secara rutin setiap pagi adalah membaca Asmaul Husna, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan kitab Aqidatul Awam.
Pemilihan Aqidatul Awam sebagai bagian dari pembiasaan tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa banyak lulusan madrasah melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren. Oleh karena itu, peserta didik perlu dibekali pengetahuan dasar keagamaan yang dapat menunjang kesiapan mereka ketika memasuki lingkungan pesantren.
Melalui pembacaan secara rutin, peserta didik diharapkan terbiasa mendengarkan, mengenali, dan menghafal materi tersebut secara bertahap. Meskipun tidak semua siswa langsung hafal secara keseluruhan, pembiasaan ini dinilai membantu mereka mengingat bacaan dan melanjutkan hafalan ketika diperlukan.
Bahkan, sejumlah wali murid menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan tersebut. Bekal pembelajaran Aqidatul Awam dirasakan bermanfaat ketika anak-anak melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren, terutama dalam mengikuti pembelajaran keagamaan pada jenjang awal.
Lantunan Bacaan Menjadi Penanda Aktivitas Masyarakat
Pembacaan Aqidatul Awam biasanya dimulai sekitar pukul 07.00 WIB dengan menggunakan pengeras suara. Menariknya, lantunan bacaan dari madrasah tersebut juga terdengar hingga lingkungan masyarakat sekitar.
Bagi sebagian warga yang bekerja di kawasan perkebunan semangka, suara bacaan tersebut bahkan menjadi penanda waktu untuk memulai aktivitas, termasuk waktu sarapan dan bekerja.
Fenomena ini menunjukkan bahwa keberadaan madrasah tidak hanya memberikan manfaat bagi peserta didik, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat setempat.
Kunjungan Ketua PC LP Ma’arif NU Kencong tersebut menjadi kesempatan untuk menggali nilai-nilai sejarah, perjuangan pendiri, serta praktik pendidikan yang berkembang di lingkungan madrasah. Kisah MI Miftahul Ulum 1 Mayangan memperlihatkan bahwa pendidikan yang berakar pada kepedulian masyarakat dan diperkuat dengan pembiasaan keagamaan dapat menjadi modal penting dalam membentuk generasi yang berilmu, berakhlak, dan siap melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.































