UMBULSARI – Pimpinan Cabang Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (PC RMINU) Kencong menggelar acara Liwetan dan Refleksi Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Pondok Pesantren Tanwirul Ulum, Umbulsari, pada Jumat malam (23/10/2026).
Acara yang dimulai pukul 19.30 WIB tersebut diawali dengan sambutan serta tawassul oleh tuan rumah, KH. Badri Munawwar. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Ketua RMI PCNU Kencong Gus Ach. Nurfuad Alfajri, M.Pd, jajaran Pengurus Harian PCNU Kencong (Syuriyah dan Tanfidziyah), Pengurus Cabang LBMNU Kencong Ust. Anwar Sholihin beserta jajarannya, Pengurus Cabang LDNU Kencong, PC RMINU Kencong, Ketua MWCNU Umbulsari Ust. Shodik, serta para Kiai, Gawagis, dan Asatiz se-wilayah PCNU Kencong.
Dalam sambutannya, Rais Syuriyah PCNU Kencong, K. Achmad Laiq Athoillah, menyampaikan pesan mendalam mengenai perbedaan dinamika santri zaman dulu dan masa kini. Beliau menyoroti bahwa santri dahulu memiliki ilmu yang sangat bermanfaat karena diimbangi dengan tirakat dan perjuangan yang kuat, seperti memasak nasi menggunakan kayu bakar. Beliau juga menyampaikan rasa kagumnya kepada para gus yang tetap memilih mondok di pesantren untuk menggali rahasia serta keutamaan ilmu pesantren.
Namun, K. Achmad Laiq Athoillah menegaskan hal yang paling mengkhawatirkan saat ini adalah maraknya ancaman peredaran obat-obatan terlarang, minuman keras, hingga narkoba yang berupaya masuk ke lingkungan pesantren. Beliau menilai hal tersebut sebagai ulah pihak-pihak yang tidak menyukai keberadaan pesantren. Oleh karena itu, beliau mengimbau RMI untuk segera menjalin kerja sama erat dengan pihak kepolisian guna melakukan langkah-langkah pencegahan.
Acara dilanjutkan dengan dialog interaktif dan doa bersama. Selain sebagai ajang silaturahmi antar pengurus NU dan pengasuh pesantren, forum ini memanfaatkan momen untuk menyerap aspirasi terkait regulasi penerbitan Izin Operasional (Izop) pesantren yang dinilai semakin ketat, khususnya dengan adanya persyaratan IMB, PBG, dan SLF yang rumit.
Rangkaian acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Kiai Imam Subki, kemudian diakhiri dengan ramah tamah dan tradisi makan bersama (liwetan) dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan.































