PUGER, JEMBER — Madrasah Ibtidaiyah (MI) Miftahul Ulum Wringintelu, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang memiliki sejarah panjang dalam mengembangkan pendidikan agama dan membentuk karakter generasi muda. Berdiri sejak tahun 1964, madrasah ini tumbuh dari semangat gotong royong para tokoh masyarakat dan kepedulian warga terhadap pentingnya pendidikan Islam bagi anak-anak di lingkungan setempat.
Hal tersebut terungkap dalam wawancara yang dilakukan oleh Ketua PC LP Ma’arif NU Cabang Kencong, H. Muhammad Yasin Yusuf Ghozali, bersama Kepala MI Miftahul Ulum Wringintelu, H. Masruri, yang akrab disapa Abah Ruri.
Dalam wawancara tersebut, Abah Ruri menceritakan perjalanan panjang madrasah yang hingga kini terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan serta mempertahankan kepercayaan masyarakat.
Berawal dari Kepedulian Tokoh Masyarakat
Menurut penuturan Abah Ruri, sebelum tahun 1964, masyarakat Wringintelu belum memiliki lembaga pendidikan madrasah sendiri. Anak-anak yang ingin memperoleh pendidikan agama harus menempuh perjalanan menuju Pondok Pesantren Bustanul Ulum untuk belajar.
Pada masa itu, masyarakat yang memiliki keinginan kuat untuk menyekolahkan anak-anaknya di madrasah harus berupaya mencari tempat belajar di luar lingkungan desa. Seiring berjalannya waktu, jumlah anak yang belajar semakin banyak. Kondisi tersebut mendorong munculnya gagasan dari para tokoh masyarakat untuk mendirikan madrasah di wilayah Wringintelu.
Para tokoh masyarakat, khususnya pengurus dan takmir Masjid Baiturrahman, kemudian berinisiatif mendirikan lembaga pendidikan Islam di kawasan Sonokeling, Wringintelu, Puger.
Dengan semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap pendidikan generasi penerus, madrasah pun mulai dirintis. Pada tahap awal, kegiatan belajar mengajar dilaksanakan di serambi Masjid Baiturrahman.
Dari tempat yang sederhana itulah, MI Miftahul Ulum mulai menapaki perjalanan panjangnya. Keterbatasan sarana dan prasarana tidak menyurutkan semangat para pendiri untuk menghadirkan pendidikan agama yang dapat dijangkau oleh masyarakat sekitar.
Perkembangan Siswa dan Perjalanan Kepemimpinan
Abah Ruri mengungkapkan bahwa dirinya mulai menjabat sebagai kepala madrasah pada tahun 1999. Ketika pertama kali memimpin, jumlah siswa masih berkisar antara 89 hingga 90 anak, atau belum mencapai 100 siswa.
Jumlah tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola madrasah. Namun, melalui berbagai upaya yang dilakukan oleh pengurus dan para guru, perlahan-lahan kepercayaan masyarakat mulai tumbuh.
Sekitar tahun 2002, jumlah siswa mulai mengalami peningkatan hingga mendekati dan melampaui angka 100 anak. Setelah itu, perkembangan jumlah siswa mengalami pasang surut sebelum akhirnya mencapai pertumbuhan yang lebih baik.
Abah Ruri juga mengenang masa awal kepemimpinannya ketika kebijakan kenaikan kelas yang diterapkan sempat menimbulkan persoalan. Dari 16 siswa yang mengalami kendala dalam proses tersebut, dua siswa akhirnya pindah, sedangkan 14 siswa lainnya kemudian kembali melanjutkan pendidikan di madrasah.
Peristiwa itu menjadi bagian dari perjalanan pembenahan lembaga. Seiring berjalannya waktu, masyarakat semakin mengenal dan mempercayai MI Miftahul Ulum sebagai tempat pendidikan bagi putra-putri mereka.
Hasilnya, jumlah siswa terus berkembang hingga mencapai lebih dari 200 anak. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa lembaga pendidikan yang berawal dari tempat sederhana dapat terus tumbuh melalui ketekunan, komitmen, dan dukungan berbagai pihak.
Menguatkan Pendidikan Agama dan Pembiasaan Karakter
Salah satu keunggulan yang disampaikan Abah Ruri adalah pembiasaan kegiatan keagamaan setiap pagi sebelum kegiatan pembelajaran dimulai.
Program tersebut dirancang untuk membentuk karakter siswa sekaligus menanamkan nilai-nilai keislaman sejak dini. Anak-anak dibiasakan membaca doa-doa harian yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari, mulai dari bangun tidur, makan, hingga menjelang tidur kembali.
Selain doa harian, para siswa juga mengikuti kegiatan membaca surah-surah Al-Qur’an dan Asmaul Husna sesuai jadwal yang telah ditentukan. Kegiatan keagamaan tersebut dilengkapi dengan istighasah dan pembacaan Yasin pada waktu yang dijadwalkan oleh madrasah.
Pembiasaan ini bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan bagian dari upaya madrasah untuk menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an, membangun kedisiplinan, serta membentuk akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui pendidikan yang memadukan pembelajaran umum dan penguatan nilai-nilai agama, MI Miftahul Ulum berupaya mencetak generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga berakhlak baik dan terbiasa menjalankan ajaran Islam.
Dukungan Masyarakat Menjadi Kekuatan Madrasah
Dalam wawancara tersebut, Abah Ruri juga menyampaikan rasa syukur atas besarnya dukungan masyarakat terhadap keberlangsungan madrasah.
Menurutnya, hubungan antara madrasah dan masyarakat telah terjalin dengan baik. Dukungan tersebut tidak hanya berupa perhatian terhadap pendidikan anak-anak, tetapi juga bantuan dan kepedulian sosial yang diberikan secara sukarela.
Ia menceritakan bahwa masyarakat kerap menitipkan sedekah atau infak dengan niat pahalanya diperuntukkan bagi kepentingan madrasah. Nominalnya beragam, mulai dari ratusan ribu rupiah hingga pernah mencapai satu juta rupiah dalam satu kesempatan. Bahkan, hingga saat ini, bantuan masyarakat masih terus mengalir.
Bagi Abah Ruri, dukungan tersebut merupakan bentuk kepercayaan sekaligus amanah yang harus dijaga oleh seluruh pengelola lembaga.
Kepedulian masyarakat juga terlihat ketika ada warga di lingkungan madrasah yang meninggal dunia. Para guru berupaya hadir untuk bertakziah, mengikuti tahlil, dan memberikan dukungan kepada keluarga yang sedang berduka.
Tradisi tersebut mencerminkan bahwa MI Miftahul Ulum tidak hanya menjalankan fungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat.
Menjaga Kepercayaan, Melanjutkan Perjuangan
Perjalanan MI Miftahul Ulum Wringintelu sejak berdiri pada tahun 1964 memberikan gambaran tentang pentingnya semangat kebersamaan dalam membangun pendidikan. Dari kegiatan belajar di serambi masjid hingga berkembang menjadi madrasah dengan lebih dari 200 siswa, perjalanan lembaga ini tidak terlepas dari peran para pendiri, pengurus, guru, wali murid, dan masyarakat.
Kisah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kemajuan lembaga pendidikan tidak hanya ditentukan oleh fasilitas yang dimiliki, tetapi juga oleh kualitas pengelolaan, pembiasaan karakter, dan kepercayaan masyarakat.
Menutup wawancara, H. Muhammad Yasin Yusuf Ghozali menyampaikan terima kasih kepada Abah Ruri atas penjelasan dan pengalaman yang telah dibagikan.
Kisah MI Miftahul Ulum Wringintelu menjadi pengingat bahwa perjuangan pendidikan yang dimulai dari niat baik dan kepedulian masyarakat dapat memberikan manfaat lintas generasi. Dengan tetap menjaga nilai-nilai keislaman, memperkuat kebersamaan, dan meningkatkan mutu pendidikan, madrasah ini diharapkan terus berkembang serta melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Pendidikan tumbuh dari kepedulian, berkembang melalui kepercayaan, dan bertahan berkat kebersamaan.































