Menu

Mode Gelap
PC GP Ansor Kencong Perkuat Toleransi Beragama melalui Launching Kampung Moderasi Beragama Harlah ke-97, 107 Lembaga LP Ma’arif NU Kencong Gelar Upacara Serentak Menjaga Tradisi Menguatkan Presisi, Bimtek Ilmu Falak Resmi Dibuka di STAI Raden Abdullah Yaqin PKC PMII Jatim Kecam Juragan Sound Horeg yang Sebut KH Ma’ruf Khozin “Goblok” di Siaran TV One Geram Pengusaha Sound Horeg Hina MUI, Wakil Ketua MA IPNU Kencong: Harus Diproses Hukum Banser Kencong Kecewa Pernyataan Pengusaha Sound Horeg, Minta Proses Hukum Dijalankan

LBMNU

Hukum Sholat di atas Kursi

badge-check


					Hukum Sholat di atas Kursi Perbesar

 Download PDF

Deskripsi Masalah:

Sudah maklum bagi kita semua bahwa di dalam mengerjakan sholat, salah satu syaratnya adalah berdiri bagi yang mampu. Jika tidak mampu maka dengan duduk Tawarru’ atau Iftirosy, jika tidak mampu pula maka dengan cara berbaring. Cuma tidak jarang kita temui di masjid-masjid seseorang sholat di atas kursi dengan alasan tidak mampu atau kesulitan berdiri, pada saat ruku’ dan sujud cukup sekedar membungkukkan badan. Padahal dia bisa sholat duduk di bawah dengan mengerjakan sujud dan ruku’ yang sempurna.

Pertanyaan:

a. Bagaimana hukum sholat dengan cara di atas?

b. Sebatas mana seseorang diperbolehkan melaksanakan sholat fardhu dengan cara duduk?

Penanya: Ust Imam Syafi’i

Jawaban

a. Tidak sah sholatnya, sebab dia masih bisa melakukan ruku’ dan sujud secara sempurna dengan cara duduk di bawah. Kecuali dia mau turun dari kursi untuk melakukan ruku’ dan sujud.

b. Jika seseorang tidak mampu berdiri atau mampu berdiri akan tetapi terjadi Masyaqqot Syadiidah seperti bertambahnya rasa sakit, pusing sampai menghilangkan kekhusyu’an sholat, atau ada larangan dari Dokter untuk melakukan gerakan ruku’ dan sujud dikarenakan baru mengalami operasi organ dalam.

Referensi:

المجموع ٤/٣١٠

قال أصحابنا ولا يشترط في العجز أن لا يتأتى القيام ولا يكفي أدنى مشقة بل المعتبر المشقة الظاهرة فإذا خاف مشقة شديدة أو زيادة مرض أو نحو ذلك أو خاف راكب السفينة الغرق أو دوران الرأس صلى قاعدا ولا إعادة وقال إمام الحرمين في باب التيمم الذي أراه في ضبط العجز أن يلحقه بالقيام مشقة تذهب خشوعه لأن الخشوع مقصود الصلاة

اعانة الطالبين ١/١٥٩

(قوله: وضبطها الإمام الخ) عبارة النهاية: قال الرافعي: ولا نعني بالعجز – أي عن القيام – عدم الإمكان فقط، بل في معناه خوف الهلاك أو الغرق، أو زيادة المرض، أو لحوق مشقة شديدة، أو دوران الرأس في حق راكب السفينة، كما تقدم بعض ذلك. قال في زيادة الروضة: الذي اختاره الإمام في ضبط العجز أن تلحقه مشقة شديدة تذهب خشوعه. لكنه قال في المجموع: أن المذهب خلافه. اه. وأجاب الوالد – رحمه الله تعالى – بأن إذهاب الخشوع ينشأ عن مشقة شديدة. اه.

Baca Lainnya

Menjaga Tradisi Menguatkan Presisi, Bimtek Ilmu Falak Resmi Dibuka di STAI Raden Abdullah Yaqin

11 September 2026 - 18:34 WIB

Khutbah Jumat: Merindukan Nabi Muhammad

4 September 2026 - 10:53 WIB

Sinergi LDNU, RMINU, dan IASS Jember Perkuat Pemahaman Hukum Waris Islam

19 Agustus 2026 - 08:06 WIB

Hadiri Rakor ATR/BPN, PCNU Kencong Sambut Baik Aplikasi SYAFAAT Tanah Wakaf

10 Agustus 2026 - 08:27 WIB

Khutbah Jumat: Mempersiapkan Diri di Hari Kiamat

9 Agustus 2026 - 18:43 WIB

Trending di JUM'AT